Chairil Anwar
Oktober 1942
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta
Chairil Anwar
Oktober 1942
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta
Saat aku masih kanak-kanak aku mengenal seseorang. Lebih tepat jika dibilang tahu. Dia teman sekelas kakakku. Aku dan kakakku satu SD. Aku tahu semua teman-teman sekelas kakakku, khatam bahkan.
Dan yang akan kubicarakan ini adalah seorang anak yang terkenal bukan saja di kelas tapi satu sekolahan tidak asing lagi dengan namanya. Dia terkenal sebagai murid laki-laki yang badung. Setiap ada kesempatan untuk membicarakan dia, pastinya berita negatif yang tersebar. Tentang kemalasannyalah, tentang kebodohannyalah, tentang kenakalannyalah.
Belakangan aku tahu, merk dia sebagai anak nakal bukan hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan rumahnya. Kebanyakan orang tua akan melarang anaknya untuk berteman dengannya. Alasannya takut terkena pengaruh buruk. Di sekolah dia memiliki geng yang terdiri dari sekumpulan anak-anak nakal yang sering membuat onar di sekolah. Alhasil dia dan gengnya dijauhi oleh orang. Ajaibnya diantara teman satu gengnya tubuhnya paling kecil. Tapi tetep, dia ditakuti oleh orang lain.
Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa aku juga menjauhinya. Mungkin karena aku terbiasa disuguhi berita negatif seputar dirinya, makanya aku memandangnya sebagai kuman yang harus dihindari. Jujur aku menganggapnya sampah. Aku tidak pernah kontak dengannya secara langsung kecuali saat dia mulai menganggu kakakku baru aku mulai bertindak. Ayah selalu berpesan untuk saling menjaga sesama saudara dari apapun, tidak peduli aku perempuan, aku harus berani.
Sampai suatu ketika, dia datang ke rumahku. Saat itu ayah dan bunda tidak ada di rumah. Dia datang meminjam ember. Kupinjamkan, karena arah tujuannya tidak jauh dari rumahku. Dia dengan tergesa-gesa menuju sumur yang ada di samping rumahku. Aku penasaran, segera ku ikuti langkahnya. Ternyata di dalam sumur itu ada anak ayam yang tercebur. Dan dia dengan berani masuk ke dalam sumur dengan cara memanjat tali timba. Dia tidak mempedulikan laranganku. Aku bilang padanya panggil orang dewasa saja, dan katanya ayamnya nanti mati duluan.
Syukurlah ayamnya dan dia selamat.
Dia mengembalikan ember dan bilang “keringkan ayamnya ditempat yang panas, nanti dia mati kedinginan. Entah karena aku takjub dengan sikapnya atau apalah, aku menurut saja begitu dia perintahkan padahal ayam itu bukan milikku. Tanpa pamit denganku dia berlalu begitu saja. Saat aku sedang kesal menunggui ayam yang berjemur di teras rumahku, dia datang. Dia bilang ada pisau atau golok. Aku tak langsung memberikan karena takut disalahgunakan olehnya. Aku saja masih dilarang dengan bunda untuk memegang pisau. Bunda melarangku karena aku masih kelas 2 SD.
Mungkin karena aku takut pada akhirnya aku berikan juga golok itu. Dan tahukah kamu golok itu untuk apa ???…Golok itu untuk membelah kelapa muda yang dia bawa. Dia bawa dua, dengan cekatan kedua kelapa muda itu dibelahnya. Aku heran dengan keterampilannya menggunakan golok. Cekatan. Aku jadi ingat dia sudah beberapa kali tidak naik kelas, seharusnya dia sudah kelas 6 dan karena badannya kecil jadi tidak kelihatan, wajar jika dia bisa menggunakan golok.
Tahukah engkau, hari itu penilaianku tentang dirinya berubah. Ternyata dia baik. Tidak seperti yang dibicarakan orang. Memang sih aku sering melihanya berkelahi, tapi tidak selalu dia yang memulainya. Perkelahian itu lebih sering dipicu karena dia tersinggung orang lain menghina pekerjaan ibunya. Ibunya penjual ceker ayam. Saat berkeliling menawarkan dagangannya, ibunya sering berteriak “cekeeeeeeeeer, cekeeeeeeeeeeer”. Kalimat itulah yang ditiru oleh anak-anak lain. Sebagai laki-laki dia merasa wajib melindungi harga diri ibunya. Dia hanya berpikir apa yang dilakukan orang lain melukai perasaan ibunya. Dia juga kakak yang baik. Dia tidak pernah bermain tanpa mengajak adiknya turut serta. Semuanya itu aku sadari saat aku mulai sering memperhatikannya.
Aku memang tidak pernah berbicara dengannya, karena aku tidak peduli. Aku selalu menilai kalau seseorang yang dianggap bersalah oleh orang kebanyakan berarti memang salah. Dan aku lihat semua orang seperti itu. Ikut memberi merk “dia anak nakal” tanpa alasan yang jelas, sekedar ikut-ikutan.
Aku jadi merasa berdosa padanya. Aku telah ikut-ikutan memberikan lebel buruk padahal dia tidak pernah berbuat salah padaku. Aku senang dia pernah singgah pada kehidupanku, aku mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga. Pelajaran yang menjadi prinsipku sampai sekarang. Pelajaran darinya kupahat dalam hatiku dengan dalam. Setiap kali aku menjalani hidup aku selalu berusaha menerapkan pelajaran yang kudapatkan dari masa kecilku.
Dia tidak pernah tahu jika pertemuan dengannya berbekas di hatiku. Dia tidak pernah tahu jika sampai hari ini aku masih mengenang pertemuan dengannya. Tidak, aku tidak bisa memberitahukannya. Kalau aku tidak salah mengingat dia meninggal karena kecelakaan. Entalah samar. Pastinya aku tidak pernah melihatnya lagi sampai akhirnya aku pindah sekolah. Nama anak itu Juli.
inilah pelajaran dari Juli yang kudapatkan
Juli, terima kasih…karena kamu aku belajar
jika kamu sahabat dari seseorang jangan pernah menilai sahabatmu salah berdasarkan penilaian orang lain.
jika kamu bukan sahabat seseorang jangan pernah menghakiminya salah jika kamu tidak tahu dengan pasti apakah dia salah.
dan jika seseorang itu salah tidak peduli apakah dia sahabatmu atau bukan, jangan pernah memvonis dia salah untuk kesalahan yang tidak dilakukan padamu.
dan jika kamu menilai seseorang itu salah hanya karena pikiranmu menilainya salah, percayalah secara tidak sengaja kamu sudah menjadikan sebentuk hati menjadi tidak bernurani.
adakalanya sesuatu yang kau anggap benar dan orang lain yang meyakininya sebagai kebenaran bukan berarti itu benar.
karena benar atau salah tidak pernah menyisakan satu jawaban yang mutlak.
(dhe atra)